Table of Contents

AMP dan HTML Utama Berbeda URL Struktur Canonical yang Benar agar Tidak Berebut Index

AMP canonical vs non AMP menjadi masalah technical SEO ketika satu konten tersedia melalui dua URL berbeda, misalnya versi HTML utama pada /page/ dan versi AMP pada /page/amp/.

Secara visual keduanya dapat menampilkan informasi yang hampir sama. Namun, bagi search engine keduanya tetap merupakan dua URL yang harus dipahami hubungannya.

Contohnya:

https://example.com/page/
https://example.com/page/amp/

Jika arsitektur canonical tidak diatur dengan benar, Google harus menentukan sendiri URL mana yang paling representatif dari konten tersebut.

Google menyebut proses memilih URL representatif dari sekumpulan halaman duplikat atau sangat mirip sebagai canonicalization. Selain itu, untuk implementasi AMP dengan versi non-AMP, Google meminta halaman AMP terhubung ke canonical page. Canonical tersebut dapat berupa halaman non-AMP atau AMP itu sendiri.

Karena itu, tujuan technical SEO bukan membuat:

HTML vs AMP

menjadi dua halaman yang saling bersaing.

Sebaliknya, struktur yang lebih tepat adalah:

HTML utama = canonical

↓

AMP = alternate version

↓

Keduanya mempunyai mapping yang konsisten

Dengan arsitektur tersebut, Google lebih mudah memahami URL mana yang harus menjadi representasi utama.

Memahami Dua Model Arsitektur AMP

Sebelum memasang canonical, tentukan terlebih dahulu model website yang digunakan.

Google saat ini mendokumentasikan dua konfigurasi utama AMP:

  1. Canonical AMP, yaitu hanya ada satu versi halaman dan halaman AMP tersebut menjadi canonical.
  2. Canonical non-AMP, yaitu terdapat halaman AMP serta halaman non-AMP yang bertindak sebagai canonical utama.

Artikel ini berfokus pada konfigurasi kedua:

/page/
/page/amp/

Artinya terdapat HTML utama dan AMP version secara terpisah.

Skenario Dasar: /page/ dan /page/amp/

Misalnya sebuah artikel utama berada pada:

https://example.com/seo-landing-page/

Kemudian AMP version berada pada:

https://example.com/seo-landing-page/amp/

Dalam model ini, struktur yang direkomendasikan adalah:

HTML utama

https://example.com/seo-landing-page/

bertindak sebagai:

Canonical URL

Sedangkan:

https://example.com/seo-landing-page/amp/

bertindak sebagai:

AMP alternate version

Hubungannya dapat divisualisasikan seperti:

HTML UTAMA
/page/
   │
   │ rel="amphtml"
   ↓
AMP VERSION
/page/amp/
   │
   │ rel="canonical"
   ↓
HTML UTAMA
/page/

Jadi, hubungan tersebut bukan:

/page/  ←→  /page/amp/

dengan dua canonical terpisah.

Sebaliknya:

/page/
   ↑
   │ CANONICAL
   │
/page/amp/

Google secara khusus menyarankan ketika AMP tidak muncul sebagaimana diharapkan, developer memeriksa apakah rel="amphtml" telah ditambahkan pada canonical page dan apakah rel="canonical" telah tersedia pada halaman AMP.

Struktur HTML Utama yang Benar

Misalnya canonical URL adalah:

https://example.com/page/

dan AMP URL:

https://example.com/page/amp/

Pada halaman HTML utama, bagian <head> dapat mempunyai struktur:

<head>

<title>Contoh Landing Page SEO</title>

<link
  rel="canonical"
  href="https://example.com/page/"
>

<link
  rel="amphtml"
  href="https://example.com/page/amp/"
>

</head>

Perhatikan dua elemen berbeda.

Self-Canonical

<link
  rel="canonical"
  href="https://example.com/page/"
>

HTML utama menunjuk ke dirinya sendiri.

Google merekomendasikan canonical page menggunakan self-referencing canonical.

AMP Reference

<link
  rel="amphtml"
  href="https://example.com/page/amp/"
>

Elemen tersebut menunjukkan bahwa terdapat AMP version terkait.

Dengan demikian, HTML utama tetap jelas sebagai canonical URL.

Struktur Halaman AMP yang Benar

Selanjutnya, halaman:

https://example.com/page/amp/

menggunakan:

<head>

<title>Contoh Landing Page SEO</title>

<link
  rel="canonical"
  href="https://example.com/page/"
>

</head>

Jangan membuat:

<link
  rel="canonical"
  href="https://example.com/page/amp/"
>

apabila sebenarnya /page/ memang ditetapkan sebagai halaman utama.

Dalam konfigurasi canonical non-AMP, AMP harus menunjukkan halaman utama yang sesuai. Google mendokumentasikan bahwa AMP page harus terhubung ke canonical page agar hubungan tersebut dapat digunakan dalam crawling dan indexing.

AMP HTML Canonical Jangan Membalik Arah Canonical

Kesalahan implementasi yang cukup mudah terjadi adalah membalik struktur.

Misalnya:

HTML

<link
  rel="canonical"
  href="https://example.com/page/amp/"
>

Kemudian AMP:

<link
  rel="canonical"
  href="https://example.com/page/"
>

Artinya:

HTML → AMP
AMP → HTML

Sinyalnya menjadi tidak jelas.

Sebaliknya, tentukan satu halaman representatif.

Untuk arsitektur yang menggunakan HTML utama:

HTML
/page/
↓
self canonical
/page/

dan:

AMP
/page/amp/
↓
canonical
/page/

Dengan demikian, semua sinyal canonical menunjuk ke URL yang sama.

Pembahasan lebih lengkap mengenai canonicalization sebaiknya dihubungkan dengan #2 – Canonical AMP Landing Page.

Mapping AMP dan HTML Sebaiknya 1:1

Jika website mempunyai banyak halaman, buat mapping secara konsisten.

Contoh:

HTML
/service-a/

AMP
/service-a/amp/

Kemudian:

HTML
/service-b/

AMP
/service-b/amp/

dan:

HTML
/service-c/

AMP
/service-c/amp/

Strukturnya:

/service-a/amp/ → /service-a/

/service-b/amp/ → /service-b/

/service-c/amp/ → /service-c/

Hindari pola:

/service-a/amp/ ┐
                │
/service-b/amp/ ├──→ /homepage/
                │
/service-c/amp/ ┘

jika masing-masing sebenarnya mempunyai halaman canonical sendiri.

Google menjelaskan canonical merupakan URL representatif dari konten yang sama atau sangat mirip. Oleh karena itu, mapping AMP ke canonical yang benar-benar sesuai merupakan struktur yang paling logis.

Secara praktis, gunakan hubungan satu AMP terhadap satu canonical yang sesuai dengan kontennya.

Contoh Mapping URL yang Benar

Misalnya website mempunyai:

https://example.com/jasa-seo/
https://example.com/jasa-seo/amp/

https://example.com/technical-seo/
https://example.com/technical-seo/amp/

https://example.com/local-seo/
https://example.com/local-seo/amp/

Mapping-nya:

/jasa-seo/amp/
      ↓
/jasa-seo/
/technical-seo/amp/
      ↓
/technical-seo/
/local-seo/amp/
      ↓
/local-seo/

Dengan pola tersebut, developer dapat melakukan audit otomatis berdasarkan slug.

Mengapa Content Mismatch Berbahaya?

Masalah berikutnya bukan canonical tag, melainkan isi halaman.

Misalnya HTML utama mempunyai:

  • H1 lengkap;
  • 2.000 kata;
  • FAQ;
  • tabel;
  • produk;
  • CTA;
  • testimonial;
  • internal link.

Tetapi AMP version hanya mempunyai:

  • H1;
  • banner;
  • 200 kata;
  • satu tombol.

Meskipun canonical benar, kedua halaman memberikan pengalaman yang jauh berbeda.

Google meminta pengguna sedapat mungkin mendapatkan konten yang sama dan mampu melakukan tindakan yang sama pada halaman AMP seperti pada corresponding canonical page.

Karena itu, jangan menganggap AMP sebagai:

versi konten yang dipotong sebanyak mungkin.

Lebih tepat menganggapnya sebagai:

representasi ringan dari halaman yang sama.

Elemen yang Harus Konsisten antara AMP dan HTML

Tidak berarti markup keduanya harus identik.

Namun konteks utamanya sebaiknya tetap sejalan.

H1

HTML:

<h1>Technical SEO Landing Page</h1>

AMP:

<h1>Technical SEO Landing Page</h1>

Jangan mengubah AMP menjadi topik berbeda.

Main Content

Jika halaman HTML menjelaskan:

canonical AMP

maka AMP version juga harus membahas canonical AMP.

Jangan membuat canonical page mengenai SEO lalu AMP version membahas topik lain hanya karena memakai template yang salah.

CTA

Jika HTML menyediakan:

Minta Audit SEO

maka AMP sebaiknya tetap memberi pengguna cara melakukan tindakan tersebut.

Google secara eksplisit menyarankan pengguna dapat melakukan tindakan yang sama di AMP dan canonical page apabila memungkinkan.

Structured Data

Apabila structured data digunakan, Google menyarankan structured data yang sama digunakan di canonical dan AMP page.

Jadi, jangan mempunyai:

HTML = Article schema
AMP = Product schema

untuk konten yang sama tanpa alasan yang valid.

Risiko Template AMP Tidak Sinkron

AMP sering dibuat secara otomatis menggunakan:

  • plugin;
  • generator;
  • custom template;
  • script deployment.

Akibatnya update pada halaman utama belum tentu langsung muncul di AMP version.

Misalnya HTML diperbarui:

Title baru
H1 baru
Content baru
Canonical baru

tetapi AMP masih menampilkan versi lama.

Terjadilah:

/page/
= konten terbaru

sementara:

/page/amp/
= konten enam bulan lalu

Masalah tersebut menghasilkan content mismatch.

Karena itu, setiap deployment idealnya mempunyai proses:

Update HTML
↓
Regenerate AMP
↓
Validate AMP
↓
Check canonical
↓
Check content parity

Rel Amphtml Jangan Mengarah ke URL yang Salah

Kesalahan lain:

HTML utama:

<link
  rel="amphtml"
  href="https://example.com/page-b/amp/"
>

padahal halaman sebenarnya:

/page-a/

Strukturnya menjadi:

/page-a/
↓
AMP
/page-b/amp/

Sementara /page-b/amp/ mungkin canonical ke:

/page-b/

Ini membuat mapping berantakan.

Seharusnya:

/page-a/
   ↓
/page-a/amp/

dan:

/page-b/
   ↓
/page-b/amp/

Google memang menyarankan developer memeriksa keberadaan rel="amphtml" pada canonical page dan rel="canonical" pada AMP page ketika melakukan troubleshooting.

Gunakan URL AMP yang Masuk Akal

Google juga menyarankan AMP URL menggunakan struktur yang masuk akal bagi pengguna.

Contohnya:

https://example.com/article/amp

atau struktur sejenis pada domain website yang sama.

Google bahkan memberikan contoh skema seperti:

https://www.example.com/myarticle/amp

atau:

https://www.example.com/myarticle.amp.html

ketika AMP dibuat sebagai tambahan dari canonical non-AMP page.

Karena itu, struktur:

/page/
/page/amp/

merupakan pola yang mudah dipahami.

Sitemap Masukkan URL Canonical secara Konsisten

Jika HTML:

/page/

merupakan canonical utama, sitemap sebaiknya menggunakan:

<url>
  <loc>https://example.com/page/</loc>
</url>

Google menjelaskan sitemap dapat digunakan untuk menyatakan canonical yang diinginkan, walaupun sinyal sitemap lebih lemah dibanding rel="canonical".

Dengan demikian:

Canonical tag → /page/

Sitemap → /page/

Internal link → /page/

semuanya konsisten.

Jangan membuat:

Canonical → /page/

Sitemap → /page/amp/

Internal link → campuran

jika tujuan utamanya memang HTML.

Internal Link Harus Mengarah ke Canonical URL

Ini bagian penting dari brief artikel.

Google secara eksplisit merekomendasikan internal linking diarahkan ke canonical URL, bukan duplicate URL. Konsistensi link membantu Google memahami URL yang dianggap utama oleh website.

Misalnya halaman canonical:

https://example.com/page/

maka gunakan:

<a href="https://example.com/page/">
Panduan Technical SEO
</a>

bukan:

<a href="https://example.com/page/amp/">
Panduan Technical SEO
</a>

untuk navigasi internal utama.

Dengan demikian, struktur internal authority mengarah pada canonical.

Jangan Campur Internal Link ke /page/ dan /amp/

Misalnya terdapat 100 artikel.

Sebagian link menuju:

/page/

sementara sisanya menuju:

/page/amp/

Jika /page/ merupakan canonical, lebih baik konsolidasikan internal linking ke /page/.

Struktur:

Artikel A ─┐
Artikel B ─┤
Artikel C ─┼──→ /page/
Artikel D ─┤
Artikel E ─┘

lebih konsisten daripada:

Artikel A → /page/
Artikel B → /page/amp/
Artikel C → /page/
Artikel D → /page/amp/

Canonical memang membantu mengonsolidasikan duplicate URL. Namun, Google tetap menyarankan linking internal langsung ke canonical URL.

Canonical NAGAVIP sebagai Contoh Penerapan

Konsep yang sama dapat digunakan ketika suatu brand memiliki halaman HTML utama dan AMP version secara terpisah.

Sebagai contoh, halaman NAGAVIP dapat dijadikan target audit struktur URL dengan memeriksa apakah URL tersebut berfungsi sebagai canonical utama atau mempunyai AMP variant tersendiri.

Jika nantinya terdapat:

https://info.nagavip-icu1.click/page/

dan:

https://info.nagavip-icu1.click/page/amp/

maka relationship keduanya harus ditentukan secara eksplisit.

Jika HTML menjadi canonical:

/page/amp/
   ↓
canonical
   ↓
/page/

Selanjutnya, internal linking yang ditujukan untuk memperkuat halaman NAGAVIP sebaiknya konsisten mengarah ke canonical URL yang memang ingin dipertahankan.

URL NAGAVIP yang diberikan dapat diakses ketika diperiksa dalam penyusunan artikel ini.

Dengan demikian, backlink menuju situs NAGAVIP tidak berdiri sendiri; target URL-nya juga perlu mempunyai canonical architecture yang jelas.

Jangan Membuat AMP dan HTML Sama-Sama Self-Canonical Jika Isinya Duplikat

Misalnya:

HTML

<link
 rel="canonical"
 href="https://example.com/page/"
>

sementara AMP:

<link
 rel="canonical"
 href="https://example.com/page/amp/"
>

Artinya masing-masing mengklaim diri sebagai canonical.

Jika keduanya mempunyai konten sama atau sangat mirip tetapi tujuannya sebenarnya adalah AMP alternate version, konfigurasi tersebut bertentangan dengan arsitektur yang ingin dibangun.

Lebih tepat:

HTML:
/page/
↓
canonical
/page/

dan:

AMP:
/page/amp/
↓
canonical
/page/

Namun, ada pengecualian penting.

Jika hanya ada satu AMP page dan AMP tersebut memang menjadi halaman utama, AMP dapat menjadi self-canonical. Google secara resmi mengakui konfigurasi Canonical AMP tersebut.

Jangan Menganggap AMP Harus Selalu Non-Canonical

Ada dua kemungkinan valid.

Model A — Non-AMP Canonical

/page/
= canonical

/page/amp/
= AMP alternate

Model B — AMP Canonical

/page/
= AMP + canonical

Tidak ada versi HTML lain.

Google menyatakan canonical page dapat berupa non-AMP page maupun AMP page itu sendiri.

Jadi, keputusan harus berdasarkan arsitektur website, bukan aturan bahwa AMP selalu harus menjadi alternate.

HTTP dan HTTPS Harus Konsisten

Misalnya canonical:

https://example.com/page/

tetapi AMP canonical tag mengatakan:

http://example.com/page/

Ini menciptakan konflik protocol.

Google umumnya lebih memilih HTTPS daripada HTTP yang ekuivalen, kecuali terdapat masalah atau sinyal yang bertentangan seperti canonical HTTPS yang justru menunjuk ke HTTP.

Karena itu gunakan:

HTML:
https://example.com/page/

AMP:
https://example.com/page/amp/

Canonical:
https://example.com/page/

secara konsisten.

www dan non-www Jangan Dicampur

Contoh salah:

HTML:

https://example.com/page/

AMP:

https://www.example.com/page/amp/

Canonical AMP:

https://example.com/page/

Meskipun masih mungkin diproses, struktur tersebut menambah variasi host yang tidak diperlukan.

Lebih sederhana:

https://example.com/page/
https://example.com/page/amp/

atau seluruhnya menggunakan www.

Yang terpenting adalah konsistensi.

Parameter URL Juga Harus Mengikuti Canonical Utama

Misalnya:

/page/?utm_source=facebook
/page/?ref=partner
/page/?campaign=seo

Jika semuanya hanya merupakan tracking variant dari /page/, canonical tetap dapat diarahkan menuju URL utama.

Kemudian AMP tetap menggunakan:

/page/amp/
↓
canonical
/page/

Jangan membuat tracking parameter menjadi target utama internal link.

Cara Audit AMP Canonical vs Non AMP

Gunakan urutan berikut.

1. Tentukan HTML Utama

Contoh:

/page/

2. Tentukan AMP Version

/page/amp/

3. Periksa HTML Canonical

Harus:

<link
 rel="canonical"
 href="https://example.com/page/"
>

4. Periksa rel amphtml

HTML utama:

<link
 rel="amphtml"
 href="https://example.com/page/amp/"
>

Google mencantumkan pemeriksaan rel="amphtml" sebagai salah satu langkah troubleshooting AMP.

5. Periksa AMP Canonical

AMP:

<link
 rel="canonical"
 href="https://example.com/page/"
>

6. Bandingkan Konten

Pastikan:

  • H1 relevan;
  • main content sejalan;
  • CTA tersedia;
  • structured data konsisten;
  • pengguna memperoleh pengalaman yang setara.

Google meminta content dan actions antara AMP serta canonical page tetap setara sejauh memungkinkan.

7. Periksa Internal Links

Pastikan link utama menuju:

/page/

Google merekomendasikan internal linking ke canonical URL.

8. Periksa Sitemap

Masukkan canonical URL.

9. Validate AMP

Pastikan AMP HTML valid.

Google menyediakan AMP validation sebagai bagian dari troubleshooting AMP Search.

10. Gunakan URL Inspection

Inspect:

/page/

kemudian periksa canonical.

Jika diperlukan, inspect:

/page/amp/

untuk memastikan relationship-nya dipahami dengan benar.

Checklist Developer Mapping AMP dan HTML

Gunakan checklist berikut sebelum publish.

HTML Utama

  • URL memberikan 200 OK.
  • Menggunakan HTTPS.
  • Self-canonical benar.
  • rel="amphtml" menunjuk AMP yang sesuai.
  • Tidak ada noindex.
  • Konten utama tersedia.
  • Internal link menggunakan canonical URL.

AMP Version

  • AMP valid.
  • URL memberikan 200.
  • rel="canonical" menunjuk HTML utama.
  • Tidak diblok robots.txt.
  • Tidak menggunakan noindex.
  • Kontennya sesuai canonical.
  • CTA utama tersedia.
  • Structured data konsisten.

Site Architecture

  • Mapping HTML ↔ AMP jelas.
  • Tidak ada AMP orphan.
  • Tidak ada AMP menunjuk canonical yang salah.
  • Sitemap menggunakan canonical URL.
  • Internal link menggunakan canonical URL.
  • HTTP/HTTPS konsisten.
  • www/non-www konsisten.

Kesalahan AMP Architecture yang Paling Sering Terjadi

AMP Canonical ke Homepage

Contoh:

/article-a/amp/
↓
/

Padahal seharusnya:

/article-a/amp/
↓
/article-a/

Semua AMP Menunjuk Satu Canonical

Contoh:

/a/amp/ ─┐
/b/amp/ ─┼→ /page/
/c/amp/ ─┘

Padahal kontennya berbeda.

HTML Tidak Memiliki rel amphtml

AMP sudah dibuat, tetapi HTML utama tidak menunjukkan AMP version.

Google secara khusus menyarankan pemeriksaan rel="amphtml" saat melakukan debugging AMP.

Content Mismatch

HTML lengkap tetapi AMP hampir kosong.

Google meminta content parity dan kemampuan melakukan tindakan yang sama sejauh memungkinkan.

Internal Link Menuju AMP

Seluruh navigation malah menunjuk /amp/ meskipun HTML adalah canonical.

Padahal Google menyarankan internal link mengarah ke canonical URL.

Hubungan dengan Indexing

Setelah canonical architecture benar, barulah indexing diperiksa.

Jangan memulai dari:

Kenapa /page/amp/ tidak ranking sendiri?

Jika AMP adalah alternate dari /page/, fokus utamanya adalah memastikan Google memahami relationship kedua URL tersebut.

Google memperlakukan AMP menggunakan standar Search yang sama seperti halaman web lain; AMP sendiri tidak mendapat standar indexing atau ranking khusus hanya karena menggunakan teknologi AMP.

Karena itu, tahapan berikutnya perlu dihubungkan ke artikel #10, khususnya untuk proses URL Inspection dan indexing.

Hubungan dengan Canonical Troubleshooting

Jika setelah implementasi masih muncul canonical yang tidak diharapkan, periksa:

Canonical tag
↓
rel amphtml
↓
Internal linking
↓
Sitemap
↓
Redirect
↓
HTTP/HTTPS
↓
www/non-www
↓
Content similarity

Google tetap menentukan canonical akhir berdasarkan sinyal yang diproses sistem. Canonical yang dideklarasikan website membantu memberi preferensi, tetapi canonicalization tetap merupakan proses Google.

Untuk kasus tersebut, artikel ini perlu terhubung ke #13 – Canonical/Indexing Troubleshooting.

Struktur Internal Link Topic Cluster

Artikel ini wajib dihubungkan dengan empat artikel berikut.

1 SEO Landing Page AMP

Gunakan anchor:

SEO landing page AMP

Tempatkan pada pembahasan arsitektur AMP secara menyeluruh.

2 Canonical AMP Landing Page

Gunakan anchor:

canonical AMP landing page

Tempatkan pada bagian canonicalization dan duplicate URL.

10 Cara Indexing Landing Page Google

Gunakan anchor:

cara indexing landing page Google

Tempatkan setelah arsitektur AMP selesai diperiksa.

13 Canonical Troubleshooting

Gunakan anchor:

troubleshooting Google-selected canonical

Tempatkan ketika membahas canonical yang masih dipilih berbeda oleh Google.

Sebaliknya, keempat artikel tersebut sebaiknya memberikan internal link kembali menggunakan variasi anchor:

  • AMP canonical vs non AMP;
  • struktur AMP dan HTML;
  • AMP HTML canonical;
  • rel amphtml;
  • AMP version dan canonical URL.

FAQ AMP Canonical vs Non AMP

Apa perbedaan AMP canonical dan non-AMP canonical?

AMP canonical berarti AMP page itu sendiri menjadi halaman canonical. Sementara canonical non-AMP berarti terdapat AMP version dan halaman non-AMP terpisah, dengan halaman non-AMP sebagai canonical utama. Google secara resmi mendokumentasikan kedua konfigurasi tersebut.

Jika URL HTML /page/ dan AMP /page/amp/, canonical harus ke mana?

Jika HTML merupakan halaman utama, AMP /page/amp/ harus menggunakan rel="canonical" menuju /page/. Sementara halaman HTML dapat menggunakan rel="amphtml" untuk menunjukkan AMP version terkait.

Apakah halaman HTML utama harus self-canonical?

Google merekomendasikan canonical page menggunakan self-referencing canonical.

Apakah AMP dan HTML harus mempunyai konten identik?

Markup tidak harus identik. Namun Google meminta pengguna sedapat mungkin memperoleh konten serta kemampuan melakukan tindakan yang sama di AMP dan corresponding canonical page.

Internal link sebaiknya menuju AMP atau canonical?

Jika HTML merupakan canonical utama, internal linking sebaiknya mengarah ke URL canonical. Google secara eksplisit merekomendasikan linking internal ke canonical URL dibanding duplicate URL.

Apakah AMP boleh menjadi self-canonical?

Ya. Jika AMP merupakan satu-satunya versi atau memang ditetapkan sebagai halaman utama, AMP dapat menjadi canonical dirinya sendiri.

Apakah AMP otomatis mendapat ranking lebih baik?

Tidak. Google menyatakan AMP diindeks seperti halaman web lainnya dan standar Search yang sama diterapkan terlepas dari teknologi yang digunakan.

Konsultasi Struktur AMP + HTML Medan

Ketika halaman HTML utama dan AMP mempunyai URL berbeda, masalahnya bukan sekadar membuat dua file yang dapat dibuka.

Struktur yang benar harus memastikan:

HTML canonical

↓

rel amphtml

↓

AMP version

↓

rel canonical kembali ke HTML

↓

content parity

↓

internal links menuju canonical

↓

sitemap konsisten

↓

indexing

Untuk website bisnis di Medan dan sekitarnya, audit struktur AMP + HTML dapat digunakan untuk menemukan kesalahan mapping sebelum website memiliki puluhan atau ratusan duplicate URL.

Konsultasi Struktur AMP + HTML Medan dapat difokuskan pada mapping /page/ dan /amp/, canonical, rel amphtml, sitemap, internal linking, content parity serta evaluasi indexing di Google Search Console.