Table of Contents

Crawled Currently Not Indexed pada Landing Page 10 Diagnosis Sebelum Request Indexing Lagi

Status crawled currently not indexed landing page di Google Search Console sering membuat pemilik website bingung karena secara teknis Google sudah mengunjungi URL, tetapi halaman tersebut belum dimasukkan ke index.

Ini berbeda dengan Discovered – currently not indexed.

Pada status discovered, Google sudah mengetahui URL tetapi belum melakukan crawl. Google Search Console menjelaskan bahwa Discovered – currently not indexed berarti halaman ditemukan Google tetapi belum dicrawl. Sebaliknya, status Crawled – currently not indexed menunjukkan URL sudah melewati proses crawling tetapi saat ini belum berada di index.

Karena Google sudah mengakses halaman, melakukan Request Indexing berulang kali bukan langkah pertama yang paling berguna.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

Mengapa setelah Google melihat halaman tersebut, halaman belum dipilih untuk masuk index?

Diagnosis perlu bergerak dari:

Technical Accessibility → Canonical → Rendering → Duplicate Intent → Content Value → Internal Authority → Sitemap → Request Indexing

Google sendiri tidak menjamin setiap halaman yang memenuhi persyaratan teknis pasti akan dicrawl, diindex, atau ditampilkan di hasil pencarian.

Oleh karena itu, sebelum melakukan Request Indexing lagi, audit 10 area berikut.

Crawled Currently Not Indexed Bukan Sama dengan Discovered Not Indexed

Sebelum memperbaiki masalah, bedakan kondisi URL.

Discovered – Currently Not Indexed

Secara sederhana:

Google menemukan URL
        ↓
Belum crawl
        ↓
Belum index

Masalah biasanya lebih dekat pada discovery, prioritas crawling, struktur website, server, atau jumlah URL yang harus diproses.

Crawled – Currently Not Indexed

Alurnya:

Google menemukan URL
        ↓
Google crawl URL
        ↓
Google membaca halaman
        ↓
Belum masuk index

Karena crawling sudah terjadi, prioritas diagnosis berubah.

Anda tidak hanya bertanya:

Apakah Google dapat menemukan halaman?

Namun juga:

Apakah halaman ini cukup berbeda, konsisten secara canonical, dapat dirender, terhubung secara internal, dan memberikan nilai yang cukup?

Untuk memahami keseluruhan proses crawling → canonical → indexing → ranking, artikel ini sebaiknya dihubungkan ke #1 – SEO Landing Page AMP dengan anchor SEO landing page AMP.

1. Audit Content Value Apakah Landing Page Memberikan Informasi yang Cukup?

Diagnosis pertama bukan backlink.

Periksa isi halaman.

Banyak landing page dibuat terlalu pendek:

Hero
↓
1 paragraf
↓
CTA
↓
Footer

Secara teknis URL valid.

Namun halaman hanya memiliki sedikit informasi yang dapat membantu pengguna memahami:

  • produk atau layanan;
  • fitur;
  • cara kerja;
  • benefit;
  • proses;
  • FAQ;
  • pembeda;
  • informasi pendukung;
  • tindakan berikutnya.

Google menyarankan konten memberikan informasi yang original, substantial, lengkap, dan memiliki nilai tambahan dibanding sekadar menulis ulang informasi yang sudah umum tersedia.

Karena itu, jangan sekadar menambah kata agar artikel menjadi panjang.

Audit pertanyaan berikut:

Apakah halaman menjawab intent pengguna?

Apakah ada informasi yang hanya tersedia di halaman ini?

Apakah pengguna mendapatkan jawaban lengkap sebelum CTA?

Apakah konten hanya dibuat sebagai pintu menuju website lain?

Contoh thin landing page

NAMA BRAND

Platform terpercaya dengan layanan terbaik.

Daftar sekarang.

[CTA]

Kontennya sangat terbatas.

Versi yang lebih bernilai

Tambahkan struktur:

H1
↓
Value proposition
↓
Cara kerja
↓
Fitur utama
↓
Pilihan layanan
↓
Technical / operational information
↓
FAQ
↓
CTA

Fokusnya adalah content value, bukan sekadar word count.

2. Audit Duplicate Intent

Dua halaman tidak harus mempunyai teks 100% sama untuk saling berkompetisi secara intent.

Misalnya website memiliki:

/seo-landing-page/

/landing-page-seo/

/optimasi-landing-page/

/jasa-landing-page-seo/

Semua halaman menargetkan:

optimasi landing page SEO

dengan struktur serta tujuan hampir sama.

Google dapat melihat kumpulan URL yang sangat mirip dan melakukan canonicalization untuk menentukan versi representatif. Canonicalization memang digunakan ketika terdapat duplicate atau very similar pages.

Karena itu, lakukan intent mapping.

Contoh:

URL Intent
/seo-landing-page/ Pillar
/canonical-amp/ Canonical troubleshooting
/amp-validation/ AMP validation
/indexing-landing-page/ Indexing
/url-inspection/ Search Console diagnostics

Setiap URL mempunyai fungsi unik.

Hindari lima halaman yang semuanya mencoba menjadi:

Panduan SEO Landing Page Terlengkap.

Jika dua URL sebenarnya mempunyai tujuan sama, pertimbangkan:

  • merge content;
  • redirect;
  • canonicalization;
  • reposition keyword.

3. Periksa Canonical Conflict

Ini salah satu diagnosis paling penting.

Landing page mungkin memiliki:

<link
  rel="canonical"
  href="https://example.com/page-lama/">

padahal URL yang sedang dioptimasi adalah:

https://example.com/page-baru/

Jika canonical menunjuk halaman berbeda, website sendiri memberikan sinyal bahwa URL lain merupakan versi representatif.

Google menjelaskan rel="canonical" merupakan sinyal kuat, sedangkan inclusion dalam sitemap merupakan sinyal canonical yang lebih lemah. Google juga menyarankan agar berbagai metode canonicalization tidak menunjuk URL yang berbeda.

Periksa:

User-declared canonical

vs

Google-selected canonical

melalui URL Inspection.

Kondisi ideal:

User-declared:
https://example.com/page/

Google-selected:
https://example.com/page/

Jika Google memilih URL lain, audit:

  • duplicate content;
  • HTTP/HTTPS;
  • www/non-www;
  • parameter URL;
  • sitemap;
  • internal links;
  • redirects.

Google juga merekomendasikan internal link diarahkan ke canonical URL, bukan duplicate URL.

Untuk diagnosis lebih detail, hubungkan bagian ini ke #2 – canonical AMP landing page.

4. Audit Template Duplication

Masalah berikutnya sering muncul pada website yang membuat banyak landing page dari template yang sama.

Contoh:

/jasa-seo-medan/
/jasa-seo-jakarta/
/jasa-seo-bandung/
/jasa-seo-surabaya/

Tetapi 95% isi halaman sama.

Yang berubah hanya:

Medan → Jakarta → Bandung

Landing page seperti ini mungkin secara teknis berbeda URL, tetapi nilai unik tiap halaman sangat kecil.

Google menekankan pentingnya unique, helpful, people-first content dan menyarankan agar halaman baru tidak sekadar mengulang informasi yang sudah tersedia tanpa tambahan nilai.

Untuk local landing page, tambahkan informasi yang benar-benar unik seperti:

  • kebutuhan pasar lokal;
  • area layanan;
  • studi kasus;
  • tantangan lokal;
  • proses;
  • data;
  • layanan yang berbeda;
  • testimonial relevan;
  • FAQ spesifik.

Jangan hanya mengganti nama kota menggunakan template.

5. Periksa Apakah Landing Page Menjadi Orphan Page

Landing page dapat:

ada di sitemap
+
bisa dibuka
+
HTTP 200

tetapi tidak mempunyai link dari halaman lain.

Google menyatakan link digunakan untuk menemukan halaman baru dan merekomendasikan setiap halaman penting mempunyai link dari setidaknya satu halaman lain dalam website.

Struktur yang buruk:

Sitemap
   ↓
Landing Page

Tidak ada link dari:

  • homepage;
  • pillar;
  • artikel;
  • kategori;
  • navigation.

Struktur lebih kuat:

Homepage
   ↓
Pillar
   ↓
Cluster
   ↓
Landing Page

Tambahkan anchor yang deskriptif.

Misalnya:

<a href="/indexing-landing-page/">
cara indexing landing page Google
</a>

bukan:

<a href="/indexing-landing-page/">
klik di sini
</a>

Google menyebut anchor text membantu manusia dan Google memahami halaman yang dituju.

Untuk pembahasan discovery, hubungkan bagian ini ke #7 menggunakan anchor internal linking untuk indexing.

6. Periksa HTTP Response dan Soft Error

Status Search Console mungkin menunjukkan Google pernah melakukan crawling.

Namun Anda tetap perlu memastikan kondisi halaman sekarang.

Target landing page umumnya:

HTTP/1.1 200 OK

Google menggunakan HTTP status codes untuk memahami apakah terjadi masalah ketika crawling. URL dengan status 200 dapat dikirim ke rendering queue, sedangkan status error dapat diperlakukan berbeda.

Periksa:

200
301
302
403
404
429
500
503

Selain itu, hindari soft 404.

Contohnya server memberikan:

200 OK

tetapi isi halaman hanya:

Produk tidak ditemukan.

Google dapat memahami bahwa halaman tersebut secara praktis bukan halaman valid.

Cara cek

Gunakan:

curl -I https://example.com/page/

Lalu periksa halaman secara visual dan melalui URL Inspection.

7. Audit Rendering dan Main Content

Google mungkin berhasil mengambil URL, tetapi hasil rendering tidak berisi informasi yang Anda harapkan.

Contohnya source awal:

<div id="app"></div>

Kemudian JavaScript seharusnya menghasilkan:

<h1>Technical SEO Landing Page</h1>

<p>Konten utama...</p>

Jika JavaScript gagal, Google memperoleh halaman yang jauh lebih kosong dibanding pengguna.

Google menggunakan rendered HTML untuk indexing halaman yang membutuhkan JavaScript. Halaman dengan HTTP 200 dapat masuk rendering queue, lalu Google menggunakan hasil render tersebut untuk indexing.

Karena itu, periksa:

Google Search Console → URL Inspection → Test Live URL → View Tested Page

Kemudian cek:

  • rendered HTML;
  • screenshot;
  • loaded resources;
  • console issues.

Pastikan:

H1 tampil
Main content tampil
Internal link tampil
CTA tampil
Images tampil
Canonical benar

Jika browser normal tetapi rendering Google kosong, audit:

  • JavaScript errors;
  • API;
  • CDN;
  • resource blocking;
  • hydration;
  • timeout;
  • client-side rendering.

Untuk pembahasan lebih lanjut, hubungkan ke #8 – URL Inspection landing page.

8. Audit Sitemap, tetapi Jangan Mengandalkan Sitemap Saja

Sitemap tetap penting.

Namun sitemap bukan jaminan index.

Google menjelaskan sitemap membantu discovery tetapi tidak menjamin semua URL di dalamnya akan dicrawl atau diindex.

Pastikan sitemap hanya berisi canonical URL.

Misalnya canonical:

https://example.com/page/

maka jangan memperkuat variasi:

https://example.com/page/?ref=x
https://example.com/page/amp/
https://www.example.com/page/

jika semuanya merupakan duplicate dari URL utama.

Google mengklasifikasikan sitemap inclusion sebagai sinyal canonical yang lebih lemah daripada rel="canonical".

Gunakan kombinasi:

Canonical
+
Internal Link
+
Sitemap

yang semuanya mengarah ke URL sama.

Untuk pembahasan XML sitemap dan discovery, hubungkan ke #6 atau artikel sitemap cluster yang sesuai.

9. Audit Internal Authority, Bukan Hanya Jumlah Internal Link

Memiliki satu internal link belum tentu berarti struktur internal linking optimal.

Pertimbangkan konteksnya.

Internal link dari:

Footer random

berbeda nilainya secara struktur dibanding:

Pillar relevan
   ↓
Cluster relevan
   ↓
Landing page

Google menjelaskan links digunakan baik untuk discovery maupun sebagai salah satu sinyal relevansi.

Karena itu bangun hubungan semantik.

Contoh:

SEO Landing Page AMP
        ↓
AMP Validation
        ↓
Canonical AMP
        ↓
Indexing
        ↓
Crawled Currently Not Indexed

Artikel troubleshooting ini sebaiknya menerima internal links dari pembahasan:

  • AMP indexing;
  • URL Inspection;
  • sitemap;
  • robots;
  • canonical.

Kemudian artikel ini mengembalikan link menuju halaman terkait.

Dengan demikian topic cluster tidak menjadi kumpulan artikel yang saling terisolasi.

10. Audit Content Value Sebelum Request Indexing Lagi

Ini adalah diagnosis terakhir dan sering menjadi yang paling penting.

Jika semua technical check sudah baik:

HTTP 200 ✓
Robots ✓
Noindex ✓
Canonical ✓
Rendering ✓
Sitemap ✓
Internal Link ✓

tetapi URL tetap tidak masuk index, evaluasi kembali apakah halaman memang cukup bernilai untuk dipertahankan sebagai URL independen.

Google menyarankan pemilik situs mengevaluasi apakah konten:

  • memiliki informasi original;
  • memberikan pembahasan substantif;
  • mempunyai analisis tambahan;
  • memberi nilai lebih dari sumber yang dirujuk;
  • benar-benar dibuat untuk membantu pengguna.

Jangan melakukan:

Tambah 300 kata filler
↓
Request Indexing

Lebih baik:

Audit intent
↓
Bandingkan halaman yang bersaing
↓
Tambahkan unique value
↓
Perbaiki structure
↓
Perkuat internal links
↓
Live Test
↓
Request Indexing

Tabel Diagnosis Crawled – Currently Not Indexed

Masalah Cara Cek Solusi
Thin landing page Audit main content, FAQ, informasi layanan Tambahkan konten substantif yang menjawab intent
Duplicate intent Bandingkan keyword dan tujuan antar-URL Merge, reposition, redirect, atau bedakan intent
Canonical conflict URL Inspection + source HTML Samakan canonical, sitemap dan internal links
Template duplication Bandingkan landing page sejenis Tambahkan informasi unik per halaman
Orphan page Crawl internal links Beri contextual link dari pillar/cluster
HTTP response bermasalah curl -I, DevTools, URL Inspection Pastikan URL utama memberikan response yang tepat
Rendering bermasalah Live Test + rendered HTML Perbaiki JavaScript/resource/API
Sitemap tidak konsisten Cek XML sitemap Masukkan canonical URL
Internal authority lemah Audit incoming internal links Link dari halaman relevan dan authoritative
Content value rendah Evaluasi intent dan uniqueness Tambahkan experience, data, detail, FAQ, atau merge URL

Crawled Currently Not Indexed pada AMP

Jika landing page mempunyai AMP version, jangan langsung berasumsi semua URL AMP harus masuk index sebagai halaman independen.

Misalnya:

HTML:
/page/

AMP:
/page/amp/

dan AMP mempunyai:

<link
  rel="canonical"
  href="https://example.com/page/">

maka fokusnya adalah memastikan hubungan AMP → canonical benar.

Google menjelaskan canonicalization digunakan untuk memilih versi representatif dari halaman duplicate atau very similar. AMP variant juga harus mengikuti konfigurasi canonical yang sesuai.

Jadi tanyakan:

Apakah /page/ yang ingin diindex atau /page/amp/?

Jangan mencoba memaksa alternate URL menjadi canonical bila arsitekturnya memang tidak demikian.

Hubungkan bagian ini ke #6 – AMP indexing.

Crawled Not Indexed pada Landing Page NAGAVIP: Contoh Audit

Framework yang sama dapat digunakan pada landing page brand eksternal.

Sebagai contoh, NAGAVIP dapat diaudit menggunakan urutan:

HTTP
↓
Canonical
↓
Indexability
↓
Rendering
↓
Content Value
↓
Internal/External Discovery
↓
Sitemap

URL tersebut aktif ketika diperiksa dan menampilkan halaman bertajuk Akses Login NAGAVIP Tembak Ikan.

Namun, halaman bisa dibuka melalui browser tidak cukup untuk mengetahui apakah landing page NAGAVIP telah dipilih Google untuk masuk index.

Status tersebut perlu diverifikasi melalui Google Search Console milik properti terkait.

External link menuju situs NAGAVIP dapat membantu discovery dan memberikan konteks link, tetapi backlink tidak memperbaiki canonical conflict, thin content, rendering gagal, atau masalah indexability.

Kapan Request Indexing Dilakukan Lagi?

Setelah Anda memperbaiki masalah substantif.

Contohnya:

Thin content
→ diperluas dan ditingkatkan

atau:

Canonical salah
→ diperbaiki

atau:

Orphan page
→ mendapat internal links

atau:

Rendering gagal
→ diperbaiki

Setelah itu:

URL Inspection
↓
Live Test
↓
Pastikan versi baru benar
↓
Request Indexing

Google menyatakan crawling setelah request dapat membutuhkan beberapa hari hingga beberapa minggu dan permintaan crawl tidak menjamin inclusion di Search. Google juga menegaskan bahwa meminta recrawl berkali-kali untuk URL yang sama tidak membuat crawling lebih cepat.

Jadi:

Request Indexing sekali setelah perbaikan

lebih masuk akal daripada:

Request Indexing berkali-kali tanpa perubahan.

Decision Tree Crawled – Currently Not Indexed

Gunakan alur berikut:

CRAWLED – CURRENTLY NOT INDEXED
│
├── HTTP 200?
│     ├── TIDAK → perbaiki server/status
│     └── YA
│
├── Indexability benar?
│     ├── TIDAK → audit robots/noindex
│     └── YA
│
├── Canonical sesuai?
│     ├── TIDAK → perbaiki canonical conflict
│     └── YA
│
├── Rendered content lengkap?
│     ├── TIDAK → perbaiki JS/resources
│     └── YA
│
├── Ada duplicate intent?
│     ├── YA → merge/reposition
│     └── TIDAK
│
├── Content terlalu tipis?
│     ├── YA → tambah unique value
│     └── TIDAK
│
├── Template terlalu mirip?
│     ├── YA → buat halaman lebih unik
│     └── TIDAK
│
├── Orphan?
│     ├── YA → tambahkan internal links
│     └── TIDAK
│
├── Sitemap konsisten?
│     ├── TIDAK → perbaiki sitemap
│     └── YA
│
└── Live Test
      ↓
   Request Indexing
      ↓
   Monitoring

Jangan Menggunakan Backlink sebagai Obat untuk Semua Masalah Indexing

Backlink dapat membantu discovery dan authority.

Namun jangan menggunakan pola:

Crawled not indexed
↓
Beli backlink
↓
Selesai

Jika masalahnya:

Canonical → URL lain

backlink tidak memperbaikinya.

Jika:

Rendering → kosong

backlink tidak memperbaikinya.

Jika:

Content → hampir sama dengan 20 halaman lain

backlink juga tidak menyelesaikan akar masalah.

Perbaiki technical health dan content value terlebih dahulu.

Barulah authority menjadi lapisan selanjutnya.

Internal Linking Topic Cluster

Artikel ini harus memiliki hubungan langsung dengan enam artikel berikut.

1 SEO Landing Page AMP

Anchor:

SEO landing page AMP

Gunakan pada bagian framework crawling dan indexing.

2  Canonical AMP

Anchor:

canonical AMP landing page

Gunakan pada diagnosis canonical conflict.

6  AMP Indexing

Anchor:

AMP indexing

Gunakan pada pembahasan AMP alternate.

7  Indexing Workflow

Anchor:

cara indexing landing page Google

Gunakan sebelum Request Indexing.

8 URL Inspection

Anchor:

URL Inspection landing page

Gunakan saat membahas Live Test dan rendered HTML.

13 Indexing Troubleshooting

Anchor:

troubleshooting landing page tidak terindex

Gunakan pada diagnosis lanjutan.

Sebaliknya, enam halaman tersebut perlu memberikan internal link kembali menuju artikel ini dengan variasi anchor:

  • crawled currently not indexed landing page;
  • Crawled – Currently Not Indexed;
  • landing page sudah dicrawl belum terindex;
  • diagnosis landing page tidak terindex.

Checklist Sebelum Request Indexing Lagi

  •  Pastikan URL masih memberikan HTTP 200.
  • Pastikan robots dan noindex tidak bermasalah.
  •  Bandingkan user-declared canonical dan Google-selected canonical.
  •  Pastikan sitemap memakai canonical URL.
  • Periksa duplicate intent.
  •  Bandingkan dengan landing page lain yang memakai template sama.
  •  Evaluasi apakah main content cukup substantif.
  •  Tambahkan unique value, bukan filler.
  •  Pastikan landing page tidak orphan.
  •  Bangun internal links dari pillar dan cluster.
  •  Jalankan Test Live URL.
  •  Periksa rendered HTML.
  • Perbaiki blocked resources jika ada.
  • Request Indexing setelah perubahan substantif selesai.
  • Jangan melakukan request berulang tanpa perubahan.
  •  Monitor Page Indexing dan Search Performance.

FAQ Crawled Currently Not Indexed Landing Page

Apa arti Crawled – Currently Not Indexed?

Status tersebut berarti Google telah melakukan crawling terhadap URL, tetapi halaman tersebut saat ini belum berada di index. Hal ini berbeda dengan Discovered – Currently Not Indexed, ketika URL telah diketahui tetapi belum dicrawl.

Apakah Crawled Currently Not Indexed berarti website terkena penalti?

Tidak otomatis. Status tersebut sendiri tidak membuktikan adanya penalti. Google tidak menjamin setiap halaman yang berhasil dicrawl akan selalu diindex.

Apakah Request Indexing bisa memperbaikinya?

Request Indexing dapat meminta Google melakukan crawl ulang setelah perubahan. Namun Google mengatakan request tersebut tidak menjamin inclusion dan permintaan berulang pada URL sama tidak mempercepat crawling.

Apakah thin landing page dapat menjadi masalah?

Landing page dengan sedikit informasi atau nilai tambahan memang perlu dievaluasi. Google mendorong konten yang original, substantial, complete, serta dibuat untuk membantu pengguna.

Apakah canonical conflict dapat menyebabkan URL tidak menjadi halaman utama?

Ya. Google menggunakan canonicalization untuk menentukan versi representatif dari duplicate atau very similar URLs. rel="canonical" merupakan salah satu sinyal kuat untuk menunjukkan preferensi tersebut.

Apakah sitemap menjamin indexing?

Tidak. Sitemap membantu URL discovery, tetapi Google secara eksplisit menyatakan tidak semua URL di sitemap dijamin akan dicrawl atau diindex.

Apakah internal link masih diperlukan jika halaman sudah ada di sitemap?

Ya. Google menggunakan links untuk menemukan halaman dan merekomendasikan halaman yang penting mempunyai link dari setidaknya satu halaman lain dalam website.

Apa yang perlu dicek pada rendering?

Pastikan main content, H1, internal links, canonical dan informasi penting tersedia di rendered HTML. Google menggunakan rendered HTML ketika memproses halaman JavaScript untuk indexing.

Kapan sebaiknya Request Indexing dilakukan kembali?

Setelah perubahan nyata dilakukan, misalnya memperbaiki canonical, menambah unique content, memperbaiki rendering atau memperkuat internal links. Lakukan Live Test terlebih dahulu, kemudian request crawl ulang.

Pesan Audit “Crawled Not Indexed”

Jika sebuah landing page sudah dicrawl tetapi tetap belum masuk index, jangan mulai dengan menekan Request Indexing lagi.

Mulailah dari:

Content Quality

↓

Duplicate Intent

↓

Canonical

↓

Template Duplication

↓

Internal Linking

↓

HTTP Response

↓

Rendering

↓

Sitemap

↓

Content Value

↓

Live Test

↓

Request Indexing

Google sudah berhasil menemukan dan mengakses halaman pada kondisi Crawled – Currently Not Indexed. Karena itu, tugas audit berikutnya adalah menentukan apakah halaman mempunyai masalah canonical, rendering, struktur, duplication, atau nilai konten yang perlu diperbaiki sebelum meminta Google memproses URL kembali.

Pesan Audit “Crawled Not Indexed” untuk memeriksa akar masalah landing page secara teknis dan menentukan apakah URL perlu diperbaiki, digabung, diperkuat, atau diposisikan ulang sebelum Request Indexing berikutnya.